sebuah terminologi
kebatinan Jawa‘
Dalam terminologi kebatinan Jawa, sering dikenal istilah sedulur papat limo pancer (empat saudara yang kelima sebagai titik pusat). Yang dimaksud sedulur papat adalah empat elemen dasar manusia yaitu tanah, air, api, dan udara yang dalam bahasa Jawa disebut: ‘mayonggoseto, wakodiyat, rohilapi, makdunsarpin’, sedangkan limo pancer adalah ruh yang merengkuh dan menyatukan kelima unsur tersebut ke dalam wadag manusia.
Menurut kepercayaan mistic Jawa, keempat elemen tersebut birsifat metafisik dan dapat menyampaikan isyarat kepada wadag manusia yang berwujud firasat dan menyelamatkan manusia seperti yang sering kita dengar dengan ‘kekuatan bawah sadar manusia’. Kekuatan bawah sadar di sini kadang tidak sengaja terjadi, namun ada pula kekuatan seperti itu yang memang sengaja dimunculkan.
Sebenarnya yang terjadi dalam kebatinan Jawa tentang kekuatan bawah sadar tersebut dapat dijelaskan. Ketajaman olah kebatinan dapat menjadikan manusia ’si pelaku’ berkomunikasi dengan ’sedulur papat’ sehingga kontak batin dengan ‘sedulur papat’ tadi dapat terjadi. Kontak batin secara metafisik tersebut dapat mempertajam firasat dan memberikan kharisma bagi orang tersebut. Selain ketajaman batin dan kharisma, orang yang mampu melakukan kontak batin secara metafisik dengan ‘sedulur papat’ juga bisa meminta bantuan secara gaib.
‘sukmo luhur’ sebagai inti dari seluruh elemen manusia juga ikut andil dalam terminologi kebatinan Jawa. ‘sukmo luhur’ atau ruh manusia adalah unsur tertinggi dalam diri manusia. Dalam mistic Jawa, ruh memiliki bahasa dan dapat berbicara. Bahasa ruh dalam kejawen disebut dengan istilah ‘sastro jendro’. Konon jika seseorang mampu mengeluarkan bahasa ruh, ia dapat memerintah ruh orang lain dangan atau tanpa ia kehendaki. Hal tersebut terjadi misalnya ketika seseorang melakukan kejahatan dengan orang yang mampu berbicara menggunakan bahasa ruh, maka tanpa diperintah, ruh dari wadag yang berada dalam bahaya tadi memerintah ruh lawannya untuk lumpuh. Maka seketika itu ruh lawannya tadi akan memerintah wadag ‘raga’ untuk lumpuh. Kasus seperti itu hanya dapat disembuhkan oleh ruh yang memerintahkan tadi.
Manusia pada dasarnya adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya, hanya saja sering kali manusia tidak mampu memaksimalkan dirinya untuk menjadi takdirnya. Sehingga yang terjadi manusia justru menjadi mahkluk yang berjalan hanya pada tataran wadag saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar