Bergiat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kab Tulangbawang Barat, Fasilitator Daerah PATBM Kab Tubaba dan Ketua II P2TP2A Kab Tubaba Prov Lampung | Laporkan bilamana Anda mendengar, melihat dan atau mengetahui ada tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan Anda | WHATSAPP PENGADUAN 0853-80-344-007 | e-mail : eliasunarto07@gmail.com | lpa.tubaba@gmail.com
Rabu, 26 September 2018
Senin, 24 September 2018
Rabu, 19 September 2018
Seri parenting, kajian komunikasi : “HINDARI PHUBBING”
Panaragan Jaya
(PojokTubaba.com) – Sebagai pemerhati anak yang juga aktif di sosial media, Ketua
Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Tulangbawang Barat (LPA Kab Tubaba), Elia
Sunarto ajak kalangan orang tua, pendidik dan pemerhati anak bergerak bersama
mengkampanyekan gerakan Anti Phubbing atau Stop Phubbing.
Phubbing
adalah istilah sibuk main HP dan mengabaikan orang di hadapan kita. Fenomena ini mengemuka
akhir-akhir ini seiring dengan semakin majunya era digital. Tak hanya melanda
generasi millenial tetapi juga terjadi di kalangan orang tua yang mengenal dan
berinteraksi di ranah sosial media, inilah yang terjadi, pola anti sosial.
Stop phubbing kalau
kita sedang berhadapan atau sedang dalam pertemuan memang belum menjadi
sebuah gerakan, sebagai gagasan ini merupakan kata baru yang sedang ditawarkan untuk dikampanyekan
~kampanye anti
phubbing.
Istilah phubbing pertama kali diperkenalkan enam tahun
silam, tepatnya pada bulan
Mei 2012 dimana
saat itu para ahli bahasa,
sosiolog, dan budayawan berkumpul di Sidney University. Hasil pertemuan
tersebut melahirkan satu kata baru dalam tata bahasa Inggris.
“Phubbing
adalah ungkapan yang menggambarkan tindakan seseorang yang sibuk sendiri dengan
gadget di tangannya, sehingga ia tidak perhatian lagi kepada orang yang berada
di dekatnya,” terang Elia Sunarto.
Karena sudah menjadi
fenomena yang sangat umum, dunia sampai memerlukan sebuah kata khusus untuk
penyebutannya. Sampai saat ini Bahasa Indonesia belum
memiliki kata serapan dari phubbing ini. Padahal kita sendiri sering berbuat
phubbing. Sebut
saja misalnya saat menunggu makanan pesanan saat di restoran, padahal kita
sedang bersama-sama tamu atau keluarga, tangan kita sambil memainkan gadget.
Atau ketika menemani anak-anak, setiap satu menit sekali kita masih sempatkan melirik layar handphone kalau-kalau ada
notifikasi yang masuk. Bahkan dalam acara atau kegiatan-kegiatan resmi pun
sering kita lihat para pejabat di tribun kehormatan tampak asyik dengan gadget
di tangan masing-masing.
PHUBBING merupakan kependekan dari kata PHONE dan SNUBBING, diperkenalkan pertama
kali oleh Alex Haigh, orang Australia yang dalam penelitiannya ia menemukan fakta mengabaikan sesama dalam
masyarakat dan keluarga saat bertemu.
“Tidak berarti kita harus
berhenti menggunakan handphone, tetapi mari kita benahi diri
sendiri setidaknya dengan
mengurangi phubbing sebisa mungkin,” ajak aktifis anak ini.
Dengan semakin meluasnya penggunaan telepon pintar ini semakin
menegaskan kebenaran sindiran, “deketin
yang jauh, jauhin yang deket”.
Dunia pergaulan kita mulai diuji, ini soal etika atau
sopan santun, jangan sampai kita dianggap tidak bisa menghormati orang-orang
disekitar. Jangan sampai handphone yang kita beli dengan
keringat hasil usaha sendiri ini, justru memisahkan kita dengan teman, dengan
sahabat, bahkan memisahkan kita dari saudara, orangtua, anak dan suami atau
istri.
(**)
Kamis, 13 September 2018
Jumat, 07 September 2018
Langganan:
Postingan (Atom)


