Sabtu, 24 Mei 2014

~ SIMPANG JALAN BULAN YANG SEPOTONG ~



    (Camarku : Mardalena Puspa Sari)

Angin gontai sembunyi antara ranting angkuh
: bulan yang sepotong tafakur
Coba simak makna

Lelaki hitam itu coba bersilat
Kawinkan kata dan syair
Lahirkan seribu dusta

Ia berduga
Camarnya tak lagi setia

Bulan yang sepotong
Teteskan bara

                                #Way Abung, malam minggu 
                                  09 Oktober 1988

Jumat, 23 Mei 2014

~ SIMPANG JALAN BULAN YANG SEPOTONG ~



    (Camarku : Mardalena Puspa Sari)

Angin gontai sembunyi antara ranting angkuh
: bulan yang sepotong tafakur
Coba simak makna

Lelaki hitam itu coba bersilat
Kawinkan kata dan syair
Lahirkan seribu dusta

Ia berduga
Camarnya tak lagi setia

Bulan yang sepotong
Teteskan bara

                                (Way Abung, malam minggu 09 Oktober 1988)

Minggu, 18 Mei 2014

secawan Torabika Cappuccino extra choco granule
membasuh ingatan yang dipinjam orang
benarkah semalam malam minggu?

terkungkung dekap pelukmu
hingga ku lupa waktu

#pukul 07:45 WIB matahari dalam bingkai jendela

Sabtu, 17 Mei 2014

~ PENTAS DI KERANGKENG MACAN ~



Aku tersungkur
Ada ngilu dipantatku
Kuraba mukaku yang bebal

Samar-samar
Kutangkap tawa genit
Senuk-senuk jalang

Para centeng itu lalu menepuk dadanya
Dengan lengannya ia angkat aku
: mirip bangke ayam

Aku malu
Didepanku para pelacur kasih kecup
: buat sang centeng

Aku muak
Aku memaki, Tuhan tak datang menolongku

Aku lari
Dengan tawa bangga mereka

(25 April 1989)

~ ISABNU MARYAMA ~



(Almasih ‘Isa  putra Maryam)

Ketika dihadapmu dihadirkan rembulan yang utuh satu
Masih jugakah keraguan membelenggumu

Sesungguhnya dia adalah seorang hamba
Yang padanya diberi suatu nikmat
Contoh ajaib bagimu
Maka nikmat Tuhan yang manakah
Kau dustai

Itulah Isa putra maryam
Yang mengtakan perkataan yang benar
Karena itu janganlah kau ragu
Inilah jalan yang lempang

                       ...........Way Abung II, 05  Mei 1990

~Menggugat Kreatifitas Sineas Muda Indonesia~



Dua dasawarsa lalu
mereka sembunyi dibalik ‘tuntutan pasar’
sang pelakon pun halalkan aksi demi tuntutan skenario

belum lama pemirsa dibuat geleng-geleng kepala
ketika segala makhluk arsal dedemit, jin, pocong, kunti dan seandanya
‘bangkit dari kubur’ (kembali) berebut rezeki dugem

Sekarang kita ‘wajib’ karantina putra-putri harapan bangsa
Dari ekspansi kikir kreativitas mereka

Epos luhur saur-pitutur sepuh
Harus kotor dalam raupan pundi rupiah,
sama aksi kotornya sang koruptor

Bgmn  era kuda gigit besi Manguntur
Punggawa bisa betarung dg Batman
Yang seratusan tahun berikutnya pun belum digagas wujudnya

Sehingga konspirasi ‘mbedagul’ pun terwujud
Titisan ‘the joker’ jadi sekutu Bajangputra, Krisnha ~bocah~ jadi pemanis episode
Siluman Ular musuh Sun Go Kong kesengsem tanah Leluhur Jawa
Kini tinggal menanti saja kemunculan Upin-Ipin .......sekalian

Mengapa tidak segera saja diramekan dalam satu episode
Wiro Sableng murid Eyang Sinto Gendeng
Atau Karta Si Gila dari Muara Bondet atau Badra Mandrawarta Si Buta dari Goa Hantu
Biar lebih seru aku tawarkan hadirkan George Washington
Atau biar tampak saru, undang saja ‘geisha’ Miyabi

Klo gk mau kalah gokil adu Tong Bajil dengan Pasangan Bolot-Tessi

Yakin geh, ratingmu bakal meroket
Tapi mau dibawa kemana generasi muda Indonesia nanti (?)