Minggu, 1
Oktober 2017
TULANG BAWANG TENGAH, TUBABA
(PojokTubaba.com) – Malam ini warga
Tiyuh (desa) Candra Mukti dan sekitarnya bakal dihibur pakeliran ringgit purwa
(kesenian wayang kulit) semalam suntuk. Kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah
Tiyuh Candra Mukti Kecamatan Tulang Bawang Tengah Kabupaten Tulangbawang Barat
(Tubaba) di halaman Kantor Kepalo Tiyuh setempat dengan mengambil lakon WAHYU
MAKKUTA RAMA dengan Ki Dalang M. Darto
Sujono dari Lampung Tengah.
“Perayaan Ulang Tahun ke-4 kali ini sengaja kami gelar
ruwatan atau bersih desa dan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sekaligus
dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1439 H,” kata Marsudi Hasan Kepalo Tiyuh Candra Mukti kepada
PojokTubaba.com disela-sela kesibukannya menyalami para undangan, Minggu (1/10/2017).
Mbah
Kromo salah satu warga RT 11 Suku 02 menyampaikan terimakasihnya kepada
aparatur tiyuh atas terselenggaranya acara tersebut. Kakek berusia 76 tahun
asal Wonogiri itu mengaku bangga dengan kepala tiyuhnya, meskipun masih muda
tetapi memiliki kemauan untuk melestarikan budaya adiluhung.
Sekitar
pukul 14.48 WIB berdasarkan pantauan PojokTubaba.com di lokasi, barisan kursi
undangan yang disediakan panitia tampak dipenuhi warga yang antusias menunggu
pertunjukkan dimulai, meskipun rombongan Ki Dalang Muhammad Darto Sujono
beserta rombongan wiyogo dari lampung Tengah sempat datang terlambat, warga
tetap sabar menunggu.
Dibarisan
depan selain Kepalo Tiyuh Candra Mukti Marsudi Hasan, tampak hadir anggota DPRD
Tubaba dari PKS, Githo dan Kepalo Tiyuh Candra Kencana, Syaifullah serta dua
anggota dari Polsek Tulang Bawang Tengah. Tampak juga jajaran pengurus BUMDes,
LPM, BPK, Kepalo Suku dan RT serta tokoh masyarakat setempat.
Lakon
Wahyu Makutta Rama ini mengangkat kisah rebutan wahyu diantara para ksatria
pewayangan, dengan tokoh sentral Prabu Kresna yang menjadi pertapa bernama
bagawan Kesawasidi, tutur salah seorang sesepuh Candra Mukti yang enggan
disebut namanya. Kakek berambut putih yang mengenakan ikat kepala jawa (udheng)
itu bercerita sesungguhnya yang dimaksud dengan wahyu Makkuta Rama itu bukanlah
berujud benda atau ‘gaman’ tetapi berupa wejangan, ajaran luhur yang patut dijadikan pedoman dan
dilakoni oleh manusia, terutama yang mengemban tugas sebagai pemimpin.
“Ajaran luhur yang
dimaksud ini dinamakan Asthabrata, yang intinya meneladani sifat-sifat alam dalam melakoni kehidupan,” kata pria yang mengenakan busana
kain lurik khas Jogya itu.
Dalam lakon ini dituturkan, lanjut cerita pria
ramah itu, Sri Rama berpesan
agar menjadi raja yang bijaksana harus menjalankan delapan sifat dewa yaitu
Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera,Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut
dengan Asthabrata.
Asta Brata adalah simbol alam semesta. Arti harfiahnya
“delapan simbol alam”. Delapan
simbol alam itu adalah : bumi, geni, banyu, angin, srengenge, bulan, lintang,
dan awan.
“Dapat memberikan kesejukan
dan ketentraman kepada warganya; membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang bulu;
bersifat bijaksana, sabar, ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati
seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan bagi warganya yang
memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, baik yang
menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan
dapat memberikan pelita bagi warganya.” urainya mengakhiri obrolan. (es**)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar